
Halo, Sahabat Indies…
Kita jumpa lagi di portal digital ini. Izinkan aku menulis dengan gayaku sendiri.
Di Human Design System, aku adalah seorang Manifesting Generator.
Bagi anak-anak Manifesting Generator, ketika wadah siap, maka ide pun akan mengalir sangat bebas tanpa halangan. Sebab, ide dihargai.
Di tulisan ini, aku mengajak untuk fokus pada diri. Ini adalah landasan pokok dari semua gerakan kesadaran (spiritual), yaitu kembali masuk ke dalam diri!
Mengapa aku katakan bahwa, “Pahami energi sebelum Spiritualitas, Pahami Human Design sebelum Universe?”
Dalam banyak perjalanan Spiritual, kita sering diajarkan untuk cepat-cepat beralih frekuensi.
Dari frekuensi rendah, naik ke frekuensi lebih tinggi. Kemudian membuka kesadaran, lalu menyelaraskan energi, dan mencapai pencerahan.
Dari menggali luka batin, membasuh luka, mencoba berbagai pola healing, dan sembuh. Atau pergerakan dari Dimensi Dua (2D), tiga (3D), empat (4D), lima (5D), hingga ke alam Aqliah, Malakut, Jabarut, Lahut, hingga tak terdefinisi. Itu Enlightenment!
Tapi tidak begitu di HDS! HDS tidak memahami perjalanan kesadaran dengan model seperti itu. Itu bukan pencerahan!
Semua bermula dari pengenalan diri, yaitu pusat-pusat Energi (The Nine Centers), mengetahui proses-proses yang terjadi di tubuh, memahami misi jiwa, mengalami Conditioning dan mengusahakan Deconditioning, hingga tercipta keselarasan dan harmoni hidup.
Dalam menjalani spiritualitas, manusia perlu memahami mekanisme energinya sendiri, yaitu bagaimana energi bekerja, bagaimana tubuh Manifestor atau Projector memahami diri dan lingkungan, untuk kemudian mengambil keputusan- keputusan penting nan bijaksana.
HDS memulai perjalan spiritualnya dengan pengenalan diri. Tapi mengapa sedetail itu?
Sebab HDS melihat manusia sebagai satu sistem energi yang di dalamnya terdapat banyak komponen, terkait diri dan energi. Inilah yang kemudian keluar dan masuk, membentuk sebuah siklus. Termasuk gerakan spiritualitas di dalamnya!
Manusia dipandang sebagai sistem frekuensi-hidup. Tubuh bukan sekadar fisikal-material saja. Melainkan satu medan-besar bersifat energi Biofield yang bekerja terus menerus sebagai penerima dan pemancar frekuensi, dari diri ke diri dan Semesta. Itulah mengapa pelajar HDS (idealnya) sedetail itu memulai perjalanan kesadarannya.
Diketahui bersama, HDS mengenalkan sembol pusat energi (Nine Centers). Masing-masing center ini memiliki fungsi frekuensi tertentu. Ada Head Center yang bekerja di frekuensi data, ide, inspirasi, dan bahkna tekanan mental (ranah pemikiran).
Ada juga Ajna Center yang bekerja di frekuensi kerja-konsep, iman, dan keyakinan.
Throat Center bekerja di frekuensi bahasa (ekspresi, komunikasi, dan manifestasi)
Ada G-Center yang bekerja di wilayah frekuensi diri, identitas, dan arah hidup.
Ada Will Center sebagai daya dorong dan nilai diri. Solar Plexus bekerja di frekuensi emosi. Sacral di frekuensi kreativitas dan vitalitas.
Ada Spleen Center yang bekerja di wilayah intuisi dan survival hidup. Ada Root Center yang bekerja di frekuensi tekanan, dorongan bergerak, dan pertahanan diri
Ketika seseorang belum memahami pusat energinya sendiri, maka bisa diprediksi kemungkinan hidupnya kerap mendapati tekanan-tekanan yang bukan dari luar saja, tapi dari dalam dirinya sendiri. Bergumul dengan pikiran-pikiran berlebih (overthinking), kelelahan mentali, hilang arah, miskin makna, dan atau mengejar spiritualitas sebagai pelarian identitas !
Sekali lagi, HDS mengajak untuk mengawali perjalanan spiritual dengan pengenalan diri, tubuh, dan sistem energi di dalamnya, agar bisa diambil tindakan tepat untuk pengkondisian- pengkondisian yang ada dan menumpuk membentuk luka batin, trauma-trauma, dan Inner Child dalam bentukannya: dari pola keluarga, ketakutan kolektif, tuntutan sosial, standar kesuksesan yang ditetapkan bahkan oleh orang tua kita sendiri, dan bahkan emosi orang lain.
Akibatnya, banyak orang hidup bukan sebagai dirinya sendiri, tetapi hasil dari program lingkungan eksternal dirinya.
Dan sering kali… yang disebut “krisis spiritual” itu sebenarnya adalah tubuh yang lelah menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri.
HDS tidak memandang ini sebagai kegiatan sadar-spiritual!
Sadar-spiritual menurut HDS adalah menerima diri apa adanya, tidak memaksa. Sadar-spiritual itu mendengarkan tubuh dan memahami bahasa diri. Sadar-spiritual itu menyadari tekanan fisik yang melukai diri, tekanan mental yang menekan, tekanan spirit yang mengecilkan, mengatasi haus validasi, dan atau kecanduan pengalaman spiritual tanpa membumi (Spiritual bypass).
Jika seorang Spiritualis melakukan safarnya, tanpa mengenali Pusat-pusat Energinya, Tipe energi dirinya, Strategy, Inner Authority, Not-Self, Signature, Definisi, Empat Variabel, Incarnation Cross, GodHead, dan seluruh ritme energinya… maka bagaimana tubuh mengambil keputusan dan langkah-langkah penting hidupnya selanjutnya ?!
Banyak orang mengira, bahwa vibrasi tinggi itu adalah selalu bahagia, selalu positif, selalu tenang, atau penuh cinta.
Padahal dalam HDS, frekuensi paling sehat itu adalah menjadi diri sendiri secara autentik!
Itu bisa terjadi jika kita pahami Energi dulu, sebelum Spiritualitas. Pahami Diri dulu, sebelum Universe! Seperti judul di atas.
“Yuk, pahami HDS dulu, sebelum berangkat!” (S. R. Siola)